15 Februari 2015

Sebuah pertanyaan mungkin akan bersarang dalam pikiran mahasiswa baru Teknologi Pendidikan, bahkan beberapa mahasiswa yang telah memasuki tahun ke-2 atau semseter ke-3 Teknologi Pendidikan tentang “apa sebenarnya Teknologi Pendidikan itu dan akan jadi apa seorang sarjana dari Teknologi Pendidikan”. Dalam makalah ini, penulis akan memberikan pengarahan pada beberapa mahasiswa tentang profesi atau pekerjaan yang akan di ambil oleh seorang sarjana Teknologi Pendidikan yang sebenarnya, agar mereka tidak terus-terusan berlarut dalam kebingungan setelah mengikuti beberapa mata kuliah pada jurusan ini.
Sebenarnya bagi mahasiswa yang mau berfikir dan mencari ilmu lebih mendalam, setiap ilmu yang diberikan memiliki satu profesi tersendiri dan mampu mengembangkan kreatifitas individu. Namun sayangnya mahasiswa sekarang, meskipun tidak semuanya, mereka banyak yang menilai bahwa ilmu yang diberikan melalui mata kuliah yang ada pada jurusan tersebut adalah sia-sia. Karena setelah mereka menyelesaikan kuliah selama empat tahun masih sulit dalam mendapatkan pekerjaan di karenakanan sempitnnya lapangan pekerjaan buat mereka. Begitu pula dengan dirubahnnya sistem pembelajaran disekolah dengan adannya perubahan kurikulum 2013 yang menghapuskan mata pelajaran TIK ini menjadi sebuah pertanyaan yang besar buat calon sarjana muda Teknologi pendidikan pekerjaan apa yang harus mereka ambil ketika mata pelajaran TIK sudah dihapuskan ?. kemudian bagaimana nasib mereka ketika sudah menyelesaikan kuliahnya apakah menjaddi seorang penganggur karena sudah tidak ada guru TIK lagi ?. maka dari itu makalah ini disusun untuk memberikan penjelasan tentang profesi-profesi apa saja yang bisa di ambil oleh sarjana teknologi pendidikan sehingga mereka tidak hanya terfokuskan  ketika sudah lulus hanya menjadi seorang guru TIK saja.
Pengertian Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut. (AECT,1972:36).  Definisi pada tahun 1972 ini berusaha untuk mengidentifikasi teknologi pendidikan sebagai suatu bidang (Ely,1972). Suatu karakteristik definisi 1972 adalah keputusan untuk menetapkan komunikasi audiovisual sebagai suatu bidang studi. Ketentuan ini mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu profesi.
 
Definisi AECT 1977. Definisi resmi lengkap tertulis sepanjang 16 halaman. Dan berikut ini ringkasanya.Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia. (AECT,1977:1). Definisi pada tahun 1977 ini berusaha mengidentifikasikan teknologi pendidikan sebagai suatu teori, bidang dan profesi.
Kalau kita mengacu pada definisi teknologi pendidikan menurut AECT tahun 2004, maka teknologi pendidikan adalah teori dan praktek dalam merancang, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan mengevaluasi proses dan sumber belajar. Oleh karena itu, kawasan bidang garapan teknologi pendidikan adalah seperti digambarkan dalam diagram Gambar 2.1.

Gambar kawasan teknologi pendidikan diatas merupakan rangkuman wilayah utama yang merupakan dasar pengetahuan bagi setiap kawasan. Jadi seorang sarjana teknologi sebelum mereka mencari profesi apa yang harus mereka ambil setelah lulus dari kuliahnya mereka harus mengetahui atau faham betul tentang kawasan-kawasan bidang garapan untuk mereka sebagai seorang teknolog sehingga mereka bisa menentukan atau memilih profesi apa yang akan mereka ambil nanti yang sesuai dengan keahlian mereka masing-masing, jadi mereka bisa menjadi profesi seperti di bawah ini:
1. Desain/Perancang proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi perancangan sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran dan karakteristik pembelajar; 
2. Pengembang proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pengembangan teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbantuan komputer dan teknologi terpadu lainnya.
3. Pemanfaat/pengguna proses dan sumber belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pemanfaatan media pembelajaran, implementasi dan institusionalisasi model inovasi pendidikan, serta penerapan kebijakan dan regulasi pendidikan.
 
4. Pengelola proses dan sumber belajar; dengan lingkup pekerjaan meliputi pengelolaan proyek, pengelolaan aneka sumber belajar, pengelolaan sistem penyampaian, dan pengelolaan sistem informasi pendidikan 
5. Evaluator/peneliti proses dan sumber belajar; dengan lingkup pekerjaan meliputi melakukan analisis masalah, pengukuran acuan patokan, evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan penelitian kawasan pendidikan. 
Profesi Teknologi Pendidikan
Pekerjaan para teknologi pendidikan biasanya ditentukan oleh struktur dan tujuan dari suatu lingkungan kerja tertentu dengan merujuk pada aturan dan pola jabatan lembaga tersebut. Sells dan Glasgow (1990) menguraikan pangsa pasar kerja dengan membedakan dua peran, yakni peneliti dan praktisi. Peneliti yang berkarya di lembaga akademik mungkin berkepentingan dengan setiap kawasan, namun biasanya mereka mengkhususkan diri pada satu atau dua bidang minat. Di sekolah atau lembaga pelatihan, kebanyakan peneliti terlibat dalam penelitian evaluatif.
Praktisi mungkin saja menaruh perhatian pada setiap kawasan dalam bidang teknologi pendidikan. Namun mereka cenderung mengkhususkan diri pada ke dalam lingkup yang terbatas. Meskipun juga ada generalis, namun lingkup teknologi pendidikan yang sangat luas tidak memungkinkan seseorang untuk menguasai keahlian dalam setiap kegiatan dalam kawasan. Keadaan ini berlaku baik bagi teoritisi maupun praktisi. Kebanyakan teknolog pendidikan mempunyai pekerjaan yang menuntut keahlian khusus dalam satu atau dua bidang, misalnya desain dan pengembangan teknologi tertentu, atau pemanfaatan media.
Contoh, seorang perancang pembelajaran bekerja sebagai pegawai negeri dengan tugas khusus dalam pembuatan modul pembelajaran berbasis komputer. Pekerjan ini memerlukan keahlian yang berjenjang, mulai jenjang dasar, menengah, dan lanjut atau mahir. Kerangka kerja ini mungkin diperluas secara menyeluruh dengan sedikit modifikasi. Misalnya seorang praktisi mungkin merupakan manajer yang berkepentingan dengan semua kawasan secara umum, meskipun secara khusus hanya kawasan yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan.
Penamaan jabatan itu sendiri berbeda-beda dalam setiap lembaga, bahkan dalam suatu lingkungan kerja yang sama. Dalam lingkungan sekolah, orang-orang yang mempunyai keahlian dalam merancang mungkin menjabat sebagai guru, kepala sekolah, atau spesialis kurikulum. Dalam lingkungan lembaga pelatihan, orang dengan keahlian merancang pembelajaran mungkin disebut dengan jabatan sebagai perancang, tetapi mungkin saja dengan nama jabatan lain. Rothwell dan Kazanas (1992) mengidentifikasi penamaan jabatan alternatif dengan sebutan teknolog kinerja, pengembang pembelajaran, penyedia proyek, spesialis pendidikan, pendidik karyawan, pelatih, teknolog pembelajaran, atau spesialis sistem pembelajaran. Nama jabatan yang tampaknya mapan adalah yang berasal dari tradisi fungsional bidang studi, yaitu ahli media (di sekolah). Untuk memenuhi kualifikasi dalam pekerjaan (apapaun nama jabatannya) seorang harus menguasai satu atau lebih kawasan dalam bidang teknologi pendidikan
Pada saat ini dengan latar belakang dan tempat kerja para praktisi yang beragam, mempengaruhi perkembangan keyakinan, nilai-nilai, serta prioritas dalam bidang. Perubahan dalam keyakinan dan nilai-nilai ini dipercepat baik dari sisi tujuan maupun sumber dalam lingkungan kerja tertentu. Dampak seperti ini jelas dapat terlihat dalam bidang teknologi pendidikan, yaitu dengan terjadinya perubahan besar dalam latar pekerjaan para teknolog/ilmuwan pembelajaran.
Profesi, Bidang pekerjaan, atau bidang keilmuaan dan keahlian yang dapat diisi oleh lulusan program teknologi pendidikan di berbagai latar kerja dapat ditunjukkan dalam gambar berikut (Sells, 1994)
PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

KESEHATAN

PEMERINTAHAN

SEKOLAH/PT

BISNIS DAN INDUSTRI

TEMPAT IBADAH, RUMAH, DAN MASYARAKAT
Gambar 5 : Pilihan Pekerjaan bagi Lulusan Teknologi Pendidikan
Meluasnya pilihan lapangan pekerjaan teknolog pendidikan mempunyai dampak yang sangat berarti bagi bidang. Yang terpenting adalah perluasan pilihan dalam sektor pelatihan swasta. Sekarng ini di berbagai negara, tugas pelatihan mempersyaratkan pendidikan lanjutan dalam bidang teknologi pendidikan. Ely (1992) mengungkapkan adanya kecenderungan kegiatan pengembangan lebih banyaknya kegiatan pengembangan pendidikan/pembelajaran di latar luar sekolah dibandingkan dengan di sekolah. Kecenderungan ini telah banyak berlangsung sekitar satu dasawarsa yang lalu, nampaknya akan terus terjadi. Meskipun demikian spesialis media di sekolah masih merupakan standar pada kebanyakan lembaga persekolahan, dan mereka itu lazimnya mempengaruhi perancangan dan implementasi kurikulum. Berdasarkan perspektif banyak orang dalam bidang, perubahan dramatis tersebut belum dalam arti adanya perubahan dalam pelaksanaan teknologi pendidikan di seluruh dunia. Di berbagai negara khususnya di perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat kehadiran teknolog pendidikan amat penting dalam meningkatkan kinerja sumber daya manusia perusahaan. Mereka banyak mengirimkan tenaga (bidang human resources development/HRD) untuk menempuh pendidikan lanjutan ke bidang teknologi pendidikan. Di negara-negara berkembang dalam menentukan arah pembangunan pendidikan banyak melalui teknologi pendidikan. Kanada dan Belanda, demikian juga di Indonesia mempunyai program akademik teknologi pendidikan di perguruan tinggi. Perluasan praktek teknologi pendidikan itu tidak hanya memberi dampak pada struktur dasar bidang studi. Kelima kawasan teknologi pendidikan/pembelajaran masih tetap sesuai dengan konteks masing-masing konteks kerja. Pengaruh lapangan kerja itu pada umumnya meliputi sumber yang digunakan, isi yang digarap, dan kadang-kadang proses yang dilaksanakan. Variasi ini mungkin mempengaruhi peran, fungsi, dan produk.
Nasib Teknologi Pendidikan dengan di hapusnya pelajaran TIK
Dengan adannya perubahan pada kurikulum 2013 dengan dihapuskannya pelajaran TIK apakah dengan permasalahan tersebut menjadi suatu kendala bagi seorang lulusan Teknologi pendidikan yang tidak mendapatkan suatu lapangan pekerjaan untuk menjadi guru TIK karena mata pelajaran tersebut telah dihapus. Tidak, sama sekali dengan dihapuskannya mata pelajaran TIK tidak berpengaruh pada lulusan Teknologi Pendidikan, Kondisi itu hanya berpengaruh pada mereka yang nota bene atau statusnya sebagai guru TIK. Karena dengan perubahannya kurikulum 2013 yaitu mata pelajaran TIK dihapus namun setiap mata Pelajaran harus berbasis atau menggunakan suatu teknologi atau media. Karena program studi teknologi pendidikan, tidak bertujuan untuk menghasilkan lulusan sebagai guru TIK. itu hanya beberapa program studi, yang melihat peluang adanya kebutuhan guru TIK, terus membuka konsentrasi yang menyiapkan lulusannya menjadi guru TIK. Padahal asbabunujul berdirinya disiplin ilmu teknologi pendidikan, bukanlah untuk itu.
Kalau Anda lihat, standar kompetensi lulusan program studi Teknologi Pendidikan menurut AECT (2005), setidaknya ada dua keahlian. Pertama, lulusan Teknologi Pendidikan dapat menjadi seorang school media specialist alias ahli media pembelajaran. Fungsinya adalah membantu sekolah mengoptimalkan mutu pembelajaran dengan mengembangkan (analisis, desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, evaluasi media pembelajaran dan sumber-sumber belajar yang tepat). Begitu. Kedua, lulusan Teknologi Pendidikan dapat menjadi seorang instructional system designer alias ahli desain sistem pembelajaran. Keduanya, sebenarnya bisa bekerja di persekolahan maupun non-persekolahan seperti lembaga diklat, perusahaan, dan isntitusi lain.Begitu pula kawansannya. Jangan sempitkan makna disiplin ilmu teknologi pendidikan sebagai calon guru TIK. Mereka yang memutuskan untuk membuka konsentrasi Teknologi Pendidikan sebagai calon guru TIK, adalah keputusan yang pragmatis dan salah. Secara konseptual, lulusan Teknologi Pendidikan akan menjadi seorang teknolog pembelajaran. Boleh berkonsentrasi di instructional/training system design, e-elarning system design, dan instructional media specialis

Posted on Minggu, Februari 15, 2015 by HMJ Teknologi Pendidikan

No comments

Ada sebuah pepatah mengatakan, bahwa suatu negara yang maju dan menjadi kuat apabila didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten. Sampai saat ini Indonesia terus mengahadapi tantangan yang tidak akan kunjung terselesaikan, yaitu pengembangan kualitas sumber daya manusia. Sesungguhnya sejak awal berdirinnya negara Indonesia ini arti penting bagi pendidikan mencerdaskan kahidupan bangsa sudah sangat disadari oleh para pendiri bangsa, yang kemudian dituangkanya kedalam UUD 1945 pasal 31, yang dengan tegas mengamanatkan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Terwujudnya amanat ini seharusnya menjadi prioritas perhatian pemerintah dan masyarakat.
Perkembangan dan perubahan masyarakat Indonesia yang cepat, ditambah lagi dengan pesatnya perubahan global, memunculkan berbagai tantangan yang mengakibatkan kebutuhan pendidikan menjadi lebih intens baik dalam jenjang dan ragamnya. Lapangan kerja dewasa ini yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan khusus yang semakin bervariasi, demikian pula mereka yang tinggal dipelosok dan mereka yang tidak dapat meninggalkan suatu pekerjaanya. Dengan belajar secara tatap muka, sistem pendidikan konvensional tidak mampu untuk dengan cepat menyediakan akses pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, kepada berbagai kelompok masyarakat yng membutuhkan pendidikan tetapi terikat oleh keterbatasan tertentu, baik yang bersifat geografis maupun ketiadaan kesempatan. Berbagai kondisi seperti tidak dapat meninggalkan suatu pekerjaan, atau jarak yang jauh dari institusi pendidikan, seringkali menjadi penghambat untuk melanjutkan pendidikan. Sistem pendidikan jarak jauh dinilai memberikan suatu kemungkinan untuk dapat menyediakan akses pendidikan yang luas menjangkau seluruh wilayah Indonesia, dengan investasi yang lebih murah dibandingkan dengan harus mendirikan sebuah perguruan tinggi baru. Sistem pendidikan jarak jauh ini telah banyak dikenal dan digunakan oleh berbagai negara, seperti : India, Thailand, Korea, Inggris, negara negara tersebut sudah lama menyelenggarakan pendidikan jarak jauh. Dan pada tahun 1984 Indonesia menyelenggarakan sistem pendidikan jarak jauh degan didirikanya Universitas Terbuka, dengan tujuan utama yaitu menyediakan akses pendidikan tinggi bagi lulusan sekolah menengah dan menyediakan program peningkatan kualifikasi bagi tenaga profesional, khususnya guru.
Kegiatan proses pembelajaran jarak jauh disini dimaksdukan yaitu antara peserta didik dan guru atau instruktur terpisah oleh jarak, sehingga perlu ada upaya tertentu untuk mengatasinya. Belajar jarak jauh sudah mengalami revolusi dari yang pertama masih menggunakan jasa pos, dan revolusi yang kedua dengan menggunakan media audiovisual dan program pelatihan berbasis komputer. Dan yang sekarang ini sudah menggunakan telekomunikasi yang sudah tentu produk teknologi canggih seperti e-learning. Sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja tanpa harus dibatasi oleh ruang, waktu dan tempat.
Pengertian E-Learning
E-learning merupakan suatu teknologi informasi yang relatif baru di indonesia.
E-learning terdiri dari dua kata atau bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari electronic dan learning yang berarti pembelajaran. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Karena itu, maka e-learning sering disebut pula dengan online course (Dewi Salma, 2007: 197).
E-learning singkatan dari electronic learning merupakan istilah populer dalam pembelajaran online yang berbasis internet dan intranet. Teknologi e-learning ini merupakan sebuah teknologi yang dijembetani oleh teknologi internet, yang membutuhkan sebuah media untuk dapat menampilkan materi-materi dan pertanyaan-pertanyaan dan juga membutuhkan fasilitas komunikasi untuk dapat saling bertukar informasi antara peserta dengan pengajar. Bentuk e-learning sendiri cukup luas, hal ini dikarenakan setiap portal yang berisi informasi tentang ilmu pengetahuan sudah bisa dikatakan sebagai e-learning. E-learning menghasilkan kegiatan proses belajar mengajar menjadi efektif dengan cara menggabungkan materi secara digital dari dukungan dan layanan dalam belajar.              Jadi disini dimaksudkan e-learning merupakan suatu jaringan yang membuatnya mampu memperbaharui secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kemudian e-learning ini dikirimkan kepada pengguna melalui komputer yang menggunakan standar teknologi internet. Namun e-learning ini tidak hanya difokuskan dengan keterpisahan antara peserta didik dengan pengajar secara fisik bahkan lintas geografis, karena dalam penggunaan e-learning itu sendiri dapat mengembangkan proses pembelajaran secara bertatap muka tradisional menjadi sistem pembelajaran yang fleksibel.
Kelebihan dan Kekurangan E-Learning
            Menyadari bahwa di internet dapat ditemukan berbagai informasi dan informasi itu dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja dan dimana saja, maka pemanfaatan internet menjadi suatu kebutuhan. Bukan itu saja, pengguna internet bisa berkomunikasi dengan pihak lain dengan cara yang sangat mudah melalui berbagai teknik seperti e-moderating yang tersedia di internet.
            Dengan mengambil contoh SMART School di Malasyia, setiap introduksi suatu teknologi pendidikan tertentu yang baru seperti pemanfaatan internet. Pihak pengelola SMART School beranggapan bahwa penggunaan ICT khususnya internet bisa mendorong murid menjadi lebih aktif belajar, dimungkinkan adanya berbagai variasi yang dapat dilakukan dalam proses belajar dan mengajar, diperolehnya keterampilan yang berganda dan dicapainnya efesiensi. Sekolah- sekolah percontohan dengan menggunakan perangkat teknologi informasi ini menjadi model yang dilaksanakan oleh berbagai negara tetangga kita. Di Singapura ada ‘Excellent School’, di Thailand ada ‘Progressive School’, di Filipina ada ‘Pilot School’, dan sebagainnya.
            Dari berbagai pengalaman dan juga berbagai informasi yang tersedia di literatur, memberikan petunjuk tentang kelebihan menggunakan E-Learning, khususnya dalam pendidikan jarak jauh, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :
a.       Tersediannya fasilitas e-moderating dimana guru dengan siswa, siswa dengan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui internet, kapan saja kegiatan itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, waktu, dan tempat.
b.      Pemakai dapat menggunakan aplikasi e-learning  dimanapun juga selagi masih tersambung dengan internet tanpa dibatasi jarak, tempat dan waktu.
c.       Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar yang tersimpan di komputer
d.      Berubahnya peran siswa dari yang biasannya pasif menjadi aktif.
e.       Relatif lebih efesien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, dan lain sebagainnya.
f.       Materi yang disajikan di e-learning selalu up to date karena adannya dorongan untuk mencari referensi yang ada di Internet sambil akses e-learning
g.      Baik guru dengan siswa atau siswa dengan siswa dapat melakukan diskusi melalui internet tanpa dibatasi oleh ruang, waktu dan tempat.
Walaupun demikian  pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau yang sering disebut dengan e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :
a.       Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri. Dengan kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values  dalam proses belajar dan mengajar.
b.      Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknikpembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT.
c.       Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang cukup tinggi cenderung akan gagal dalam pembelajaran.
d.      Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan tentang internet.
e.       Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet namun sekarang sudah bisa diatasi dengan modem.
Faktor yang Perlu diperhatikan dalam Memanfaatkan E-Learning
            Menurut para ahli pendidikan dan ahli internet menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet sebagai kegiatan pembelajaran atau yang disebut dengan e-learning, antara lain sebagai berikut :
a.       Analisis kebutuhan (Need Analysis). Dalam tahapan awal, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Pertanyaan ini tidak dapat dengan perkiraan atau dijawab berdasarkan saran dari orang lain. Melainkan setiap lembaga menentukan teknologi pembelajaran sendiri yang berbeda satu sama lain. Untuk itu perlu diadakan analisis kebutuhan yang mencakup studi kelayakan, baik secara teknis, ekonomis, maupun sosial.
b.      Rancangan instruksional yang berisi tentang isi pelajaran, topik, satuan kredit, bahan ajar dan kurikulum.
c.       Evaluasi, yaitu sebelum program dimulai, ada baiknya dicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimaintai tolong untuk ikut mengevaluasi.
Oleh karena itu, perlu diciptakan bagaimana semuannya mempunyai sikap yang positif terhadap media internet dan perangkatnya sehingga penggunaan teknologi bisa mempercepat pembangunan.
Selain hal-hal sebagaimana tersebut diatas, ada empat hal yang perlu dipersiapkan sebelum pemanfaatan internet untuk e-learning, yaitu :
1.      Melakukan penyusaian kurikulum;
2.      Melakukan variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan bantuan komputer;
3.      Melakukan penilaian dengan memanfaatkan teknologi yang ada;
4.      Menyediakan material pembelajaran seperti : buku, komputer, multimedia, dan studio yang memadai;.
Fungsi E-Learning dalam Kegiatan Pembelajaran di Kelas
            Pada umumnya proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan e-learning ini dilakukan outdoor atau di luar ruangan kelas, hal ini dikarenakan kelebihan dari e-learning itu sendiri yang mampu melakukan kegiatan pembelajaran dimanapun dan kapanpun tanpa dibatasi dengan ruang, waktu dan tempat, selagi masih tersambung dengan internet.
            Namun untuk kali ini akan dijelaskan fungsi pembelajaran electronic terhadap kegiatan pembelajaran didalam kelas, fungsi e-learning yang digunakan di dalam kelas itu ada tiga, yaitu sebagai suplemen yang sifatnya opsional, pelengkap, atau pengganti (lantip diap prasojo, 2011: 223).
a).   Sumplemen
Dikatakan sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Meskipun sifatnya yang opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
b).   Komplemen
          Dikatakan sebagai komplemen (pelengkap), apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik didalam kelas. Dikatakan komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi pengayaan yang mana, peserta didik dapat dengan cepat memahami atau menguasai materi pembelajaran yang disampaikan guru dengan cara tatp muka, kemudian lebih dimantapkan lagi materi tersebut dengan cara mengakses didalam e-learning tersebut.          
c).    Subtitusi
Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswa atau para peserta didiknya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa. Ada tiga alternatifmodel kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu :
1.      Sepenuhnya secara tatap muka
2.      Sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet
3.      Sepenuhnya melalui internet
Alternatif manapun yang akan dipilih mahasiswa, tidak menjadi masalah dalam penilaian. Karena ketiga model penyajian materi perkuliahan mendapat pengakuan atau penilaian yang sama.
Pemanfaatan E-Learning dalam Pendidikan
            E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan dosen/guru/instruktur, maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat memberikan materi pelajaran, tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di dalam web dan bisa diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru atau instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan ajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula.
            Secara lebih rinci, manfaat e-learning dalam pendidikan dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan dari sudut guru/dosen.

a)        Sudut Peserta Didik
Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan guru atau dosen setiap saat. Ketika fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia didaerah perkotaan saja, tetapi sudah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka e-learning akan memberikan manfaat bagi peserta didik yang belajar di sekolah-sekolah terpuruk didaerah pedesaan untuk mendapatkan bahan materi pembelajaran yang tidak mereka dapatkan di sekolahan mereka, kemudian peserta didik bisa mengikuti program pendidikan keluarga dirumah atau yang disebut dengan home schoolers, dan juga bagi mereka yang merasa phobia dengan keramaian disekolah, yang putus sekolah tapi masih memiliki semangat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikanya, atau mereka yang terbiasa sebagai peserta didik yang pasif dalam proses pembelajaran dengan e-learning mereka akan menjadi peserta didik yang aktif, disamping itu pula manfaat bagi peserta didik yaitu mereka yang tidak mampu bersekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

b)       Sudut Guru atau Dosen
Dengan adanya kegiatan e-learning beberapa manfaat yang diperoleh guru, dosen, atau infrastruktur antara lain adalah dapat lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terus terjadi, kemudian dapat mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak, dan juga dapat mengontrol kegiatan proses belajar peserta didik bahkan guru, dosen atau infrastruktur dapat mengetahui peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berap lama topik atau bahan pembelajaran tersebut dapat dipelajari, serta berapa kali topik tersebut dipelajari, selain itu pula guru atau dosen dapat memberikan soal-soal atau tugas kepada peserta didiknya serta dapat mengecek apakah tugas tersebut sudah dikerjakan apa belum, dan yang terakhir guru atau dosen dapat memeriksa atau mengoreksi hasil pekerjaan tugas yang telah dikerjakan oleh peserta didik sekaligus memberikan nilai hasil dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik tanpa harus bertatap muka.

Posted on Minggu, Februari 15, 2015 by HMJ Teknologi Pendidikan

No comments