23 Oktober 2015




Pengajar Modern Sebagai Arsitek Pembelajaran Sepanjang Waktu
Atwi Suparman
Disampaikan dalam seminar
di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
Bali,  Sabtu, 3 Oktober 2015
I.  Persepsi Masyarakat Terhadap Kita
  1. Pengajar ideal tak mudah ditemukan dan sulit diciptakan
  2. Hanya berperan sebagai pengajar, bukan pendidik
  3. Pengajar kaku sudah tidak laku
  4. Materi ajar seakan terlepas dan tidak terkait dengan kehidupan anak
  5. Pembelajaran kaku
  6. Kering
  7. Membosankan
  8. Mekanistik
  9. Tidak memotivasi
  10. Tidak menggairahkan
  11. Kasar
  12. Penilaian hasil belajar hanya berorientasi pada hasil belajar, mengabaikan makna proses belajar
  13. Hanya aspek kognitif, bukan performance/kinerja secara utuh, tidak menyentuh aspek afektif
  14. Program sertifikasi pengajar tidak mampu meningkatkan kualitas kinerja pengajar.
  15. Pengajar menggunakan jalan pintas untuk memperoleh tunjangan sertifikasi pengajar. Maraknya plagiarisme
  16. Dll, dll, dll

II.Pengajar Modern Mampu Menjadi Arsitek Pembelajaran yang Berkualitas Tinggi

1.    There is no single good way to teach
2.    Pengajar harus menjadi arsitek yang menciptakan strategi pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan model.
3.    Menggunakan desain pembelajaran  sebagai model prosedural.
4.    Menciptakan blue print dalam bentuk strategi pembelajaran yang variatif
5.    Memilih atau mengembangkan bahan pembelajaran yang sesuai dengan blue print
6.    Pengajar sendiri dan peserta didik menikmati dan mencintai bangunan pembelajaran hasil daya cipta sang arsitek
7.    Pengajar sendiri dan peserta didik menikmati dan mencintai bangunan pembelajaran hasil daya cipta sang arsitek

III.     Berbagai Hal Terbaik yang Dapat Dilakukan Pengajar
Cox dan Ingleby, dalam Walker (2001; 15)

1.    Tujuan pembelajaran yang jelas
2.    Strategi pembelajaran yang variatif dan efektif
3.    Kelas yang penuh antusias
4.    Peserta didik aktif  berkontribusi dan berkolaborasi
5.    Pembelajaran memunculkan sifat imajinatif, inovatif, dan partisipatif peserta didik
6.    Menggunakan media audio-visual
7.    Pengajar selalu berpikir menjadi pengajar terbaik di lembaganya.
8.    Pengajar yang mampu memunculkan ide-ide cemerlang peserta didik untuk menggunakan materi yang dipelajarinya dalam kehidupannya
9.    Pengajar yang terlibat dalam setiap kegiatan bersama peserta didik
10. Bersikap terbuka, memberi kepercayaan yang besar bagi peserta didik untuk berhasil dan  menunjukkan kriteria yang jelas untuk penilaian tugas peserta didik
11. Bersama peserta didik menikmati seluruh kegiatan pembelajaran
12. Menjadi role model bagi peserta didik : sikap yang jujur, saling menyayangi, saling menghormati, berempati, dan tenggang rasa

IV.    Bagaimana Peran Pemerintah Pusat dan  Pemerintah Daerah dalam Menciptakan Pengajar  yang Arsitek ?
  1. Merumuskan kebijakan yang terbatas untuk memberi kebebasan bagi pengajar dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif
a.    Kebijakan yang terbatas tersebut hanya berbentuk rumusan tujuan pembelajaran, daftar pokok bahasan yang esensial, buku teks, dan berbagai alternatif media & alat pembelajaran
b.    Pengajar bebas menentukan berbagai macam kegiatan pembelajaran, bahan pembelajaran, metode, media (merancang strategi pembelajaran), dan mengembangkan alat penilaian hasil belajar yang otentik
  1. Tidak membuat  RESEP  pembelajaran agar tidak mengikat pengajar menjadi kaku dan mekanistik
  1. Menyelenggarakan pelatihan tentang desain pembelajaran sambil bekerja (di tempat kerja) tanpa meninggalkan tugas
  2. Mengendalikan kualitas pembelajaran di setiap sekolah yang melibatkan Kepala Sekolah dan Pengawas melalui mekanisme pembinaan, pengawasan dan penilaian kinerja pengajar secara periodik
  3. Menciptakan mekanisme dan penilaian kinerja pengajar yang terkait dengan tunjangan profesi
  4. Melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran termasuk berbagai  bahan pembelajaran yang berkualitas sebagai bagian integral dari sistem pembelajaran.
  5. Menyelenggarakan pelatihan tentang materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi

V.     Catatan Akhir
1.    Pembelajaran yang kreatif, sistematik, efektif, dan efisien dapat diciptakan pengajar bila menerapkan prosedur desain pembelajaran.
2.    Pengajar yang menerapkan prosedur desain pembelajaran akan terpicu meciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan, memotivasi diri dan peserta didik, interaktif, saling menghargai, dan santun.
3.    Pengajar  yang bekerja sebagai arsitek pembelajaran tidak pernah kehabisan ide, kreatif, inovatif, bersemangat tinggi dalam memfasilitasi  proses pembelajaran, dan antusias dalam membantu peserta didik mencapai hasil belajar yang tinggi
4.    Sang arsitek perlu mendapatkan pelatihan penguasaan materi pembelajaran yang lebih luas dan lebih dalam secara periodik agar sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi










Posted on Jumat, Oktober 23, 2015 by HMJ Teknologi Pendidikan

No comments

Singaraja-Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Jurusan dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Teknologi Pendidikan bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah IPTPI Cabang Bali mewarnai pelantikan IPTPI (Ikatan Profesi Teknologi Indonesia) Cabang Bali bertempat di kampus Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) Singaraja, Sabtu (03/10).
Pelantikan IPTPI Bali periode 2015-2018 dengan Ketua Prof. Dr. Anak Agung Gede Agung, M.Pd dan Sekretaris Luh Putu Putrini Mahadewi, S.Pd., MS. itu langsung dilakukan oleh Ketua IPTI Pusat, Prof.Dr.M.Atwi Suparman, M.Sc disaksikan Pembantu Rektor IV UNDIKSHA Drs. I Wayan Suarnajaya, M.A., Ph.D. serta Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Prof. Dr. Ni Ketut Suarni, M.S. serta peserta seminar.
            Ketua IPTI Pusat Prof.Dr.M.Atwi Suparman, M.Sc mengatakan, peran IPTPI menggerakkan serta menggalang Teknologi Pendidikan di seluruh tanah air. Sebab, Teknologi Pendidikan sebagai kajian maupun sebagai sebuah proses semakin dirasakan kontribusinya dalam upaya untuk memperbaiki pembelajaran.
    “Melalui 18 Cabang IPTPI yang ada di Indonesia, termasuk Bali, IPTPI terus berusaha menggerakkan dan menggalang Teknologi Pendidikan di seluruh tanah air,” ujar  Prof.Dr.M.Atwi Suparman, M.Sc ketika ditanya sekitar peran IPTPI usai melantik pengurus cabang IPTPI Bali.
    Kendati Teknologi Pendidikan telah hadir dan mewarnai penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, khususnya di Bali, Guru Besar Teknologi Pendidikan yang sekaligus mantan Rektor UT Jakarta ini mengatakan, masih banyak pihak yang bertanya-tanya tentang peran nyata penekun (akademisi maupun praktisi) Teknologi Pendidikan.  Oleh karena itu, diadakan pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar dengan tema ”Peran Teknologi Pendidikan dalam Dunia Kerja” yang mewarnai pengukuhan pengurus cabang IPTPI Bali kali ini.
Pada Seminar tersebut yang menghadirkan dua orang pembicara utama di ruang Pasca Sarjana UNDIKSHA, Pembantu Rektor IV UNDIKSHA Drs. I Wayan Suarnajaya, M.A., Ph.D. menampilkan dua pembawa makalah. Mereka itu adalah Prof.Dr.M.Atwi Suparman, M.Sc sebagai pembicara utama ini sangat aktif dalam mempromosikan Teknologi Pendidikan kepada masyarakat luas, baik sebagai bidang kajian maupun profesi.
Sementara pembicara lainnya, yakni Prof. Dr. I Wayan Santyasa, M.Si., merupakan salah satu Guru Besar di UNDIKSHA yang menekuni bidang Teknologi Pendidikan. Mantan ketua Lembaga Penelitian UNDIKSHA ini sengat aktif sebagai pemakalah di berbagai instansi pendidikan maupun non-pendidikan.
Kegiatan pelantikan IPTPI Bali ini adalah sebuah langkah awal para teknolog pembelajaran, mahasiswa, serta alumni jurusan Teknologi Pendidikan (TP)  khususnya yang ada di Bali dalam mengembangkan profesional Teknolog Pembelajaran. Sebab seperti yang telah diketahui selama ini, lulusan TP masih kurang diperhatikan eksistensinya oleh pemerintah. Padahal sebenarnya perannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat terutama bidang pendidikan. Seperti dikatakan oleh Dr. I Wayan Sukrawarpala, M.Sc dalam dialog interaktif yang diadakan sehari sebelum pelantikan di RRI Singaraja “Jika di sekolah, BK (Bimbingan Konseling) adalah pendamping siswa, maka TP adalah pendamping guru dalam pembelajaran.” Tegasnya memberikan perumpamaan tentang TP. (Faisol/ Mahasiswa VII A)

Posted on Jumat, Oktober 23, 2015 by HMJ Teknologi Pendidikan

No comments

30 September 2015

Singaraja- Ajang guru  Tingkat SMP Se-Provinsi Bali untuk menampilkan karya terbaiknya dalam pembuatan media presentasi pembelajaran  diselenggarakan oleh HMJ Teknologi Pendidikan FIP UNDIKSHA pada Senin, 28 September 2015. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Dekan FIP UNDIKSHA  Prof. Dr. Ni Ketut Suarni, M.S. dengan pemukulan gong tiga kali bertempat di  Gedung Seminar UNDIKSHA.
Lomba MPP Tingkat Guru SMP Se-Provinsi Bali  tahun 2015 ini mengambil  tema Mewujudkan Pembelajaran yang Inovatif, Aktif dan Menarik Melalui MPP. Peserta yang mengikuti tahap  presentasi berjumlah 12 orang yang berasal dari SMP Negeri maupun Swasta di Bali. Adapun juri lomba MPP tahun ada tiga orang  dosen yang berasal dari di Jurusan Teknologi Pendidikan FIP UNDIKSHA yaitu I Gde Putu Arya Oka, S.ST., M.Pd.  sebagai juri aspek  Rekayasa Perangkat lunak, juri aspek Desain Pembelajaran ada Dr. I Made Tegeh, M.Pd. dan Dewa Gede Agus Putra Prabawa, S.Pd, M.Pd  sebagai juri aspek Desain Pesan Pembelajaran.
Setelah semua peserta selesai presentasi, diadakan  rekapitulasi nilai maka didapatlah para juaranya. Peringkat satu diraih oleh Ayu Sri Wahyuni, S.Pd. dari SMP PGRI 2 Denpasar, juara kedua diraih   Putu Ira Sita, S.Pd.  dari SMP N 1 Singaraja, disusul posisi ketiga dari SMP N 5 Negara atas nama I Made Wiswaham, S.Ag.,M. Pd.H. dan Juara harapan  diraih oleh A.A Istri Mas Widya Lestari, S.Pd. dari SMP N 5 Singaraja.
“Kami (red panitia) berharap  kegiatan ini bisa mempraktekkan skill guru dalam pembuatan media presentasi yang inovatif, aktif, dan menarik untuk memperkaya pola penyampaian bahan pelajaran kepada peserta didik” ungkap Gede Kusuma Yasa selaku Ketua Panitia.
Ditanya mengenai kesan dan pesannya, Ayu Sri Wahyuni peraih juara satu lomba MPP tahun 2015 mengungkapkan, “Selama mengikuti lomba saya mendapat banyak pengalaman bagaimana membuat media pembelajaran yang baik, karena dalam lomba ini para peserta tidak hanya dinilai, tetapi juga mendapat masukan, kritik dan saran dari juri sehingga bermanfaat bagi guru dalam pembuatan media kedepannya. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, karena dapat membantu guru untuk meningkatkan kemampuan pedagogisnya. Selamat untuk jurusn TP yang sudah sukses melaksankan kegiatan ini,” ungkap perempuan berambut pendek ini.  (HMJ TP)

Posted on Rabu, September 30, 2015 by HMJ Teknologi Pendidikan

No comments